Keponakan Tercintaku :* Arsyakha Virendra Nasution

547680_582422285110092_1516445133_n

541669_629226203758981_1827963519_n

Inilah foto terbaru keponakanku 🙂
Senang sekali rasanya melihat tetehku bahagia dengan kelahiran anak pertamanya, Arsyakha Virendra Nasution. Dia juga merupakan cucu pertama untuk orangtuaku, sekaligus keponakan pertama bagi kami 🙂
bahagia nya tiada tara. Subhanallah. Allah memberi nikmat yang begitu besar, begitu indah 🙂
semoga anak ini menjadi pemimpin bangsa untuk masa depan. Aamiin ya allah 🙂

Kewajiban Seorang Muslimah Terhadap Dirinya

Diantara kita, banyak sekali yang sekiranya kurang memperdulikan keadaan jasmaninya, karena mereka menganggap bahwa itu hal yang tidak penting. Bagi mereka, yang lebih penting adalah penunaian amanah-amanah dengan sukses dan sesuai dengan aturan-aturan yang telah diketahui. Kurang peduli terhadap jasmani atau fisik bisa seperti tidak menjaga asupan makanan yang sehat dan bergizi, sehingga seringkali tubuh mudah terkena penyakit atau virus, kemudian tidak diobati dengan tuntas sehingga menjadi penyakit yang begitu parah. Kekurangpedulian yang lainnya seperti tentang kebersihan tubuh. Kebersihan tubuh bisa seperti kebersihan pakaian, rumah tempat tinggal, kamar pribadi, kebiasaan sehari-hari, pergaulan di luar, dan lain-lain. Termasuk kurang peduli kepada penampilan, misalnya memakai pakaian dengan warna yang mencolok, tidak serasi, memakai pakaian tidak sesuai dengan waktunya atau acaranya dan jilbab yang tidak rapih.
Tetapi banyak pula muslimah yang memperlakukan tubuhnya secara berlebihan, sehingga cenderung berperilaku boros, baik untuk pakaian yang dikenakan, perawatan tubuh mereka, aksesoris perhiasan, dan lain sebagainya. Sehingga pakaian muslimah yang digunakan tidak seusai lagi dengan syar’i (penutup auratnya dengan tidak tipis/menerawang/ketat, berwarna mencolok mata).
Seorang muslimah yang mensyukuri nikmat tubuhnya, tentunya akan senantiasa bersikap proporsional sesuai kebutuhan dan koridor kepantasan, menjaga dan merawat fisiknya dengan baik. Menjaga asupan energi dari makanan dan minuman dengan memilih yang halal, bersih, serta bergizi. Berolahraga dengan teratur agar kesehatan tetap terjaga. Porsi tidur yang cukup dan berkualitas, bukan kuantitas.
Karena kebersihan merupakan sebagian dari iman, menjaga kebersihan diri (kebersihan kulit, wajah, rambut, kuku, bau aroma tubuh) dan lingkungan (kamar tidur, kamar mandi, pekarangan rumah) merupakan beberapa hal yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan dan kebersihan seorang muslimah. Kesehatan wanita di masa muda akan sangat berpengaruh bagi kehidupannya kelak jika telah berkeluarga. Misalnya untuk kesehatan reproduksinya, kesehatan organ seksualnya, kekuatan tubuhnya untuk hamil, menyusui, mengurus rumah tangga, dan aktif di masyarakat. Dalam berpakaian pun senantiasa sesuai dengan syari’at agama islam, rapih, bersih, sehingga menciptakan kesan yang baik di pandangan masyarakat, sebagaimana keharusan sosok wanita muslim.
Ini merupakan bagian dari wujud sebagai rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberi kita nikmat hidup yang begitu berlimpah. Rasulullah SAW bersabda ketika sahabat Abdullah bin Amr bin Ash berpuasa di siang dan malam hari, “ Janganlah lakukan, karena sesungguhnya matamu memiliki hak yang harus engkau tunaikan, badanmu memiliki hak yang harus kau tunaikan, keluargamu memiliki hak yang harus kau tunaikan, maka puasa dan berbukalah, shalat dan tidurlah.” (HR.Muslim).
Semoga kita, sebagai muslimah senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh yang kita miliki. Kita selalu bersyukur kepada Allah swt atas segala nikmat yang telah Dia berikan. Aamiin.

Apa itu PAMALI?

Untuk masyarakat di Indonesia, mungkin istilah pamali sudah tidak asing lagi untuk didengar bahkan diucapkan. Seringkali istilah pamali ini disangkutpautkan dengan hukum yang berlaku di masyarakat tersebut. Hal-hal yang dipamalikan ini yang sering kita dengar dari orang tua kita atau kakek/nenek kita. Dipungkiri atau tidak, istilah pamali ini sudah menyebar luas dari pedesaan sampai perkotaan. Setiap daerah memiliki jenis pamali yang berbeda.
Dalam bahasa arab, pamali sama artinya dengan thiyarah atau tathoyyur (mempercayai adanya) yang merupakan salah satu dari bentuk-bentuk kesyirikan yang tersebar luas di masyarakat. Pamali ini bisa menjadikan kesialan kepada sesuatu yang dilihat, didengar, diketahui atau yang dilakukan. Pamali bisa juga disebut dengan pantangan. Pantangan tersebut tentunya berawal dari banyaknya kasus yang terjadi karena melanggar pantangan tersebut meski segala sesuatunya adalah bersandarkan atas kehendak Tuhan. Mungkin kita juga pernah mengalami hal yang pamali, misalnya ditegur oleh orangtua kita, apabila kita duduk di depan pintu jodoh kita akan jauh. Sebenarnya bukan itu maksudnya, tetapi menghalangi jalan. Jika anda berselimut dengan tikar, kelak anda akan digulung oleh ombak jika mandi di laut. Serta banyak lagi macam-macam pamali yang kita ketahui dan sudah menjadi suatu budaya yang secara turun temurun akan tetap ada apabila pemikiran kita tetap mempercayai hal apa yang akan terjadi apabila kita melakukan hal yang dipamalikan tersebut.
Bahkan thiyaroh ini adalah salah satu sifat dari orang-orang musyrik terdahulu, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan tentang Fir’aun dan para pengikutnya : “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Al-A’raf : 131)
Dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3528)
Oleh karena itu, untuk kita semua selaku kaum muslimin bahwa perbuatan tathayyur ini bisa mengurangi kesempurnaan tauhid yang wajib, hal ini bisa kita pahami bahwa tathayyur ini memutuskan ketawakkalannya kepada Allah dan bersandar kepada selainNya, yang mana hal itu tidak bisa memberikan manfaat dan mendatangkan mudharat dan tathayyur ini menjadikan ketergantungan hati kepada suatu perkara yang tidak ada hakekatnya sama sekali, bahkan ini adalah persangkaan belaka dan takhayul. Tidak diragukan lagi bahwa kedua hal itu akan mencacati nilai-nilai tauhid yang selama ini kita miliki, karena tauhid adalah ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) yaitu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Sebagai mahasiswa yang dikenal sebagai insan intelektual, kita harus dapat membedakan hal-hal yang dianggap pamali tersebut dengan kenyataan yang sesungguhnya. Jangan sampai keimanan kita tercoreng dengan percayanya kita terhadap hal-hal tahayul yang dianggap pamali itu. Luruskan niat, bulatkan tekad, kuatkan iman kita hanya untuk selalu hidup di jalan Allah swt. Pamali, wallahu a’lam bish-shawab.