Apa itu PAMALI?

Untuk masyarakat di Indonesia, mungkin istilah pamali sudah tidak asing lagi untuk didengar bahkan diucapkan. Seringkali istilah pamali ini disangkutpautkan dengan hukum yang berlaku di masyarakat tersebut. Hal-hal yang dipamalikan ini yang sering kita dengar dari orang tua kita atau kakek/nenek kita. Dipungkiri atau tidak, istilah pamali ini sudah menyebar luas dari pedesaan sampai perkotaan. Setiap daerah memiliki jenis pamali yang berbeda.
Dalam bahasa arab, pamali sama artinya dengan thiyarah atau tathoyyur (mempercayai adanya) yang merupakan salah satu dari bentuk-bentuk kesyirikan yang tersebar luas di masyarakat. Pamali ini bisa menjadikan kesialan kepada sesuatu yang dilihat, didengar, diketahui atau yang dilakukan. Pamali bisa juga disebut dengan pantangan. Pantangan tersebut tentunya berawal dari banyaknya kasus yang terjadi karena melanggar pantangan tersebut meski segala sesuatunya adalah bersandarkan atas kehendak Tuhan. Mungkin kita juga pernah mengalami hal yang pamali, misalnya ditegur oleh orangtua kita, apabila kita duduk di depan pintu jodoh kita akan jauh. Sebenarnya bukan itu maksudnya, tetapi menghalangi jalan. Jika anda berselimut dengan tikar, kelak anda akan digulung oleh ombak jika mandi di laut. Serta banyak lagi macam-macam pamali yang kita ketahui dan sudah menjadi suatu budaya yang secara turun temurun akan tetap ada apabila pemikiran kita tetap mempercayai hal apa yang akan terjadi apabila kita melakukan hal yang dipamalikan tersebut.
Bahkan thiyaroh ini adalah salah satu sifat dari orang-orang musyrik terdahulu, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan tentang Fir’aun dan para pengikutnya : “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Al-A’raf : 131)
Dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3528)
Oleh karena itu, untuk kita semua selaku kaum muslimin bahwa perbuatan tathayyur ini bisa mengurangi kesempurnaan tauhid yang wajib, hal ini bisa kita pahami bahwa tathayyur ini memutuskan ketawakkalannya kepada Allah dan bersandar kepada selainNya, yang mana hal itu tidak bisa memberikan manfaat dan mendatangkan mudharat dan tathayyur ini menjadikan ketergantungan hati kepada suatu perkara yang tidak ada hakekatnya sama sekali, bahkan ini adalah persangkaan belaka dan takhayul. Tidak diragukan lagi bahwa kedua hal itu akan mencacati nilai-nilai tauhid yang selama ini kita miliki, karena tauhid adalah ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) yaitu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Sebagai mahasiswa yang dikenal sebagai insan intelektual, kita harus dapat membedakan hal-hal yang dianggap pamali tersebut dengan kenyataan yang sesungguhnya. Jangan sampai keimanan kita tercoreng dengan percayanya kita terhadap hal-hal tahayul yang dianggap pamali itu. Luruskan niat, bulatkan tekad, kuatkan iman kita hanya untuk selalu hidup di jalan Allah swt. Pamali, wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s