SOSOK PEMIMPIN IDAMAN

Oleh : Yona Pemela (Kader PMII Kota Tasikmalaya, Presiden Mahasiswa Politeknik Triguna Tasikmalaya)

Sebagaimana diketahui oleh publik, tahun ini adalah tahun politik. Tahun pergantian wakil rakyat, penyambung lidah rakyat, pelaksana aspirasi rakyat dan pemilihan pemimpin negeri.

Pemimpin merupakan seseorang yang karena kedudukan atau jabatannya, kewibawaannya memegang kendali atas suatu kelompok, unit, organisasi, kemudian merangkaikan atau menetapkan dan menjalankan suatu kegiatan, kebijakan, aktivitas, tujuan kelompok, unit, organisasi tersebut dengan kinerja yang baik dan diharapkan mencapai hasil yang positif.

Untuk konteks kenegaraan sendiri, sosok pemimpin yang nampak jelas yaitu seorang presiden. Tahun ini merupakan pergantian presiden ke-7. Rakyat mengharapkan sosok pemimpin negara ini merupakan orang yang benar-benar layak untuk memimpin. Orang yang mau dan mampu memimpin. Membaawa negara ini kedalam kesejahteraan merata yang selama ini belum rakyat dapatkan dari pemimpin sebelumnya.

Sosok pemimpin idaman seperti judul tulisan ini merupakan gabungan beberapa pemikiran seorang mahasiswa. Mahasiswa yang secara rutin berdiskusi terkait isu kepemimpinan yang buruk, yang tidak layak, yang kurang memberi kontribusi positif dan kurang tegas dalam masa kepemimpinannya. Mengapa mahasiswa mampu menilai seperti itu?

Penilaian yang dilakukan oleh mahasiswa tidak hanya atas hasil diskusi saja, namun hasil dari penglihatan, pendengaran, perasaan dan memang kenyataan yang sebenarnya. Sebagaimana kita ketahui, presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Ir. Soekarno mendapat gelar sebagai Founding Father. Sosok presiden pertama ini merupakan sosok yang berpengaruh besar terhadap kemerdekaan Republik Indonesia yang baru diproklamasikan 69 tahun yang lalu.

Presiden kedua NKRI yaitu Soeharto, medapat gelar Bapak Pembangunan. Masa kepengurusan beliau melebihi batas maksimal jabatan seorang pemimpin negara. Masa kepemimpinan beliau melahirkan dua orde, yaitu orde lama dan orde baru yang apabila dijelaskan disini tidak akan selesai dalam bahasan satu lembar kertas HVS.

Presiden ketiga NKRI yaitu Bapak Teknologi. Beliau adalah BJ. Habibie. Mahasiswa yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Germany yang mendapat nilai sangat memuaskan, Cumlaud. Beliau menggantikan posisi Soeharto yang pada saat itu tahun 1998 resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden RI karena kritikan rakyat mahasiswa pada saat itu tentang kepemimpinannya. Meskipun dengan masa jabatan yang relatif sebentar, namun lulusan Institut Teknologi Bandung ini mampu membuat satu pesawat terbang atas kerjasamanya dengan PT. Dirgantara Indonesia walaupun pada akhirnya, pesawat tersebut tidak diperbanyak.

Presiden keempat yaitu KH. Abdurrahman Wahid merupakan cucu dari KH. Hasyim Asyhari, pendiri Nahdatul Ulama dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau mendapat gelar sebagai bapak Pluralisme. Beliau mampu menyatukan berbagai kebudayaan di Indonesia yang awalnya kurang diakui, namun masa jabatan beliau kebudayaan tersebut diakui. Kebudayaan tersebut adalah Tionghoa.

Presiden pertama perempuan di Indonesia yaitu Megawati Soekarnoputri. Keturunan Ir. Soekarno dan Fatmawati. Dobrakan pertama sebagai pemimpin negara perempuan di NKRI. Beliau menjabat menggantikan posisi Gus-Dur pada saat itu. Sosok kepemimpinannya lahir dari sang ayah sebagai Bapak Proklamator Indonesia.

Presiden saat ini di NKRI yaitu Susilo Bambang Yudhoyono sering dikenal dengan sebutan SBY. Menteri Koordinator Bidang PolHumKam RI pada masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri ini telah menjabat selama dua periode dalam memimpin NKRI. Belum terdengar isu-isu tentang penamaan masyarakat seperti yang dimiliki presiden-presiden sebelumnya. Yang sontak terdengar, masyarakat dan mahasiswa hanya membahas tentang wacana “Keprihatinan beliau terhadap keadaan rakyatnya”. Banyak isu-isu negatif yang berkembang selama kepemimpinannya. Tahun ini adalah tahun terakhir masa jabatannya. Presiden yang diusung dari Partai Demokrat ini sontak dikaitkan dengan beberapa kasus korupsi yang dilakukan oleh antek-anteknya, namun sampai saat ini KPK belum sampai mengusutnya tuntas. Namun untuk wakilnya yang saat ini tidak menampakan diri, entah apa yang dilakukan beliau (Boediono).

Setelah kita bercerita panjang lebar tentang kepemimpinan presiden RI dari awal sampai sekarang, saatnya penulis menyampaikan apa yang sebenarnya jadi tujuan ditulisnya artikel ini.

Sosok pemimpin yang diidamkan masyarakat kini merupakan pemimpin yang dengan relasi-relasinya mampu memberi perubahan positif yang dirasakan memudahkan masyarakat kelas bawah untuk mensejahterakan kehidupannya. Mereka dipilih untuk menjadi wakil rakyat, yang mendapat makan dari rakyat, yang bekerja untuk kesejahteraan rakyat. Bukan mereka yang memang mendapat kekayaan dari kesengsaraan rakyat, yang membuat rakyat mati dalam ketidakpuasan kehidupan akan kedzoliman-kedzoliman yang dilakukan para pemimpinnya.

Mahasiswa kini khususnya sebagai objek dari penulis yang sudah memiliki hak pilih tanggal 9 April mendatang, harus kritis dalam memilih pemimpin negara yang mewakili rakyat duduk di kursi panas sana. Memilih mereka yang memang benar-benar memiliki integritas dan komitmen tinggi untuk memperjuangkan hak-hak rakyat yang telah dirampas paksa dari elit-elit politik dalam permainannya.

Jangan melihat calon pemimpin yang dalam kampanyenya memberi selembar uang biru agar suara jatuh kepadanya. Tapi pilihlah mereka yang memang benar-benar memiliki kualitas, kemauan dan kemampuan yang dirasa sudah pas untuk kalian pilih. Sebagai mahasiswa, kalian merupakan calon-calon pemimpin pengganti wakil rakyat saat ini. Pikirkan kalian saat ini yang didzolimi mereka, dan pikirkan juga kalian yang menjadi mereka yang ingin memperjuangkan hak-hak kalian yang saat ini belum didapatkan.

Semangat perjuangan, semangat pergerakan, semangat mahasiswa. 🙂

Iklan

AGENT OF CHANGE REALIZATION

Oleh : Yona Pemela

Tulisan ini cukup menantang untuk saya pribadi. Dari judulnya saja cukup tidak asing didengar, namun manakala ditanya implementasinya, sungguh masih banyak mahasiswa yang menganga.

Agent of change sering kita dengar ketika membicarakan peran dan fungsi mahasiswa. Peran mahasiswa sendiri menurut kacamata saya bukan hanya ini. Ada mahasiswa sebagai iron stock dan mahasiswa sebagai social control. Namun untuk saat ini pembahasan akan saya tujukan kepada peran mahasiswa sebagai agent of change atau agen perubahan.

Mahasiswa sebagai agen perubahan dituntut bersifat kritis dan diperlukan implementasi yang nyata. Bukan hanya sekedar turun ke jalan saja, melainkan harus dibudayakan lagi ruang-ruang membaca buku, diskusi, kajian dan lain sebagainya. Budaya membaca ini sudah hampir hilang pada mahasiswa kini umumnya. Namun ada beberapa kelompok mahasiswa yang masih intens melakukan kegiatan-kegiatan seperti diatas saya tuliskan. Dan mereka buktikan lebih unggul daripada mahasiswa yang hanya kupu-kupu dan kunang-kunang. (Maaf untuk yang merasa tersindir).

Mahasiswa sebagai agen perubahan juga harus memiliki sifat peduli terhadap rakyat. Itu dapat ditunjukkan ketika mahasiswa dapat memberikan bantuan baik secara moril dan materil bagi siapa saja yang membutuhkannya. Misalnya, mahasiswa melakukan KKN, PPL, PKL, dan lain sebagainya. Kegiatan seperti itu jangan hanya dijadikan sebagai syarat dari kelulusan atau hanya formalitas ketika melakukan pendidikan di perguruan tinggi. Kerjakanlah kegiatan itu semua sebagai pengabdian kepada masyarakat yang secara ikhlas dari hati nurani dengan niat untuk melalukan implementasi dari peran dan fungsi mahasiswa yang sesungguhnya.

Harapan bangsa terhadap mahasiswa adalah menjadi generasi penerus yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa. Mahasiswa adalah garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat, mengembalikan nilai-nilai kebenaran yang hilang karena kepentingan diri dan nasib kelompok-kelompok elit sehingga menyengsarakan rakyat banyak. Jangan sampai garda terdepan ini terikat oleh politik dan kepentingan kelompok, dan melupakan peranannya sebagai agent of change.

Salam pergerakan. 🙂

AKTIVIS MUTLAK GALAU

Oleh : Yona Pemela

Kegalauan seorang aktivis yang belum merasa keaktivisannya dirasakan oleh orang lain.

Galau? Apa sih galau? Mengapa sih bisa galau? Bagaimana agar tidak lagi galau?

Menurut KBBI, galau adalah sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Saya garis bawahi disini kalau galau itu merupakan perasaan hati dan pikiran yang sedang tidak karuan, acak-acakan, semrawut dan lain sebagainya dikarenakan keinginan yang tidak tercapai atau tidak memuaskan. Ketika seorang mengatakan dia galau, tidak menutup kemungkinan sikapnya akan berubah dari biasanya. Ada yang murung, ada yang heboh gak jelas, dan lain-lain.

Untuk konteks galau disini, saya mengambil peran seorang aktivis. Banyak aktivis yang galau karena dirinya belum mampu mengeksplorasi keaktivisannya kusus untuk dirinya sendiri, teman-temannya, dan masyarakat banyak umumnya. Seorang aktivis bukan hanya mereka yang berkoar-koar di jalan, mereka yang berkumpul di jalan dan membakar ban. Bukan mereka yang melakukan aksi anarkis, dan mereka yang memakai baju compang-camping rambut gondrong dan berhubungan tidak baik dengan instansi. Aktivis seperti itu adalah mereka yang belum paham tentang makna aktivis yang sebenarnya.

Mengapa aktivis wajib galau? Dirasakan oleh saya sendiri yang aktif diberbagai organisasi, intra ataupun ekstra. Terlepas dari stigma publik tentang organisasi yang saya ikuti, saya merasa sudah menjadi aktivis. Dan sekarang saya galau. Kegalauan ini sangat saya nikmati. Mengapa? Karena dengan adanya rasa galau ini, saya akan lebih berfikir untuk mengambil tindakan agar kegalauan ini segera hilang. Hilang bukan berarti tidak dirasa lagi. Hilang karena setiap ketidakpuasan terhadap tindakan yang saya lakukan akan memunculkan tindakan-tindakan baru yang lebih besar dan komprehensif yang belum bisa ditindak lanjuti oleh saya.

Kegalauan ini tidak akan pernah hilang. Karena setiap kegalauan yang satu selesai, akan muncul kegalauan-kegalauan lainnya. Bagaimana agar rasa galau ini hilang? Lakukan tindakan yang bermanfaat bagi diri sendiri, teman dan lebih baik lagi untuk masyarakat banyak. Lakukan pembuktian bahwa tidak semua aktivis itu meresahkan msayarakat. Aktivis yang baik itu mampu memberi kontribusi positif terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat banyak. Semoga saya dan aktivis yang lainnya disini, bermanfaat untuk publik positif. Aamiin. Salam pergerakan 🙂

AKTIVIS ITU HARUS PEDULI

Oleh : Yona Pemela

Peduli dan peka terhadap perubahan kevakuman yang terjadi dalam jiwa keaktivisannya.

Bukan hal yang mudah menanamkan jiwa keaktivisan pada seorang aktivis pemula yang sedang coba-coba bergerak sesuai nuraninya. Tidak semua mahasiswa yang mengaku aktif di suatu organisasi dapat berjiwa layaknya seorang aktivis dalam artian luas. Mereka pasti akan menyebutkan dirinya seorang aktivis hanya dengan namanya tercantum dalam susunan organisasi kemahasiswaan, misalnya Badan Eksekutif Mahasiswa atau Badan Legislatif Mahasiswa serta organisasi ekstra lainnya.

Apa sih sesungguhnya arti dari aktivis itu? Menurut KBBI, aktivis merupakan orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya. Disebutkan disana bahwa mereka yang bekerja aktif dalam pelaksanaan kegiatan organisasinya. Jadi dapat disimpulkan bahwa mereka yang hanya numpang nama dari kepengurusan suatu organisasi tanpa ikut andil dan aktif dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan, mereka tidak layak disebut aktivis.

Aktivis itu harus peduli. Memang benar. Seorang aktivis diharapkan peka terhadap perubahan-perubahan kecil yang terjadi dalam organisasinya. Lebih istimewa lagi kalau mereka peka terhadap perubahan yang terjadi pada masyarakat umumnya. Peka disini juga tidak hanya merasakan, mengawasi, dan membaca situasi. Namun, mereka harus mampu mengambil tindakan agar perubahan yang dirasa berdampak negatif bisa segera diselesaikan dan serta perubahan positif dapat diambil satu pemikiran agar dapat dimanfaatkan untuk kemajuan dan eksistensi organisasi yang ditindaklanjuti agar bermanfaat untuk orang banyak.

Menanamkan jiwa peduli pada seorang aktivis itu tidaklah mudah. Butuh adanya sifat bawaan dari mereka dan kepekaan yang kuat yang tertanam pada setiap anggota organisasi tersebut.

Diharapkan, untuk semua anggota organisasi apapun yang diikuti oleh seorang mahasiswa untuk mengembangkan sayap keaktivisannya, tanamkanlah jiwa peduli dan solidaritas yang tinggi agar keberlangsungan organisasi itu baik tumbuh kembangnya. Semangat pergerakan. 🙂

Penulis Abal-abal

Tulisan kosong

Menulis itu tidak hanya cuap-cuap. Menulis itu tidak hanya berargumen tanpa fakta. Tidak hanya coppy paste dan hanya menambahkan. Menulis itu butuh ketenangan, butuh inspirasi, butuh keahlian. Bisa saja orang seperti saya yang tidak bisa mengutarakan tujuan penulisan namun tulisan saya dapat menjadi inspirasi bagi penulis abal-abal lainnya. Abal-abal disini bukan berarti asal, namun seorang penulis yang baru tumbuh. Baru muncul keinginan untuk menuangkan gagasannya kedalam sebuah penulisan.

Keinginan saya untuk menulis itu sudah cukup lama. Ketika Sekolah Dasar dulu saya pandai membuat cerpen. Ketika SMP juga saya juara membuat cerpen. Ketika SLTA saya mencoba untuk membuat novel, namun tersendat oleh rasa malas. Maka sekarang ketika saya mendapatkan kesempatan dan semangat baru untuk meneruskan hobi saya dulu, saya memulainya.

Beberapa buku saya baca walaupun tak pernah kelar. Namun itu tidak membuat saya patah semangat. SaYa ingin tulisan saya banyak dibaca orang. Banyak diposting dimana-mana. Media cetak ataupun online. Saya sangat berharap itu tercapai.

Gak Kenal? Ya Tuhan …

Siapa Saya?
Mengenali diri sendiri sebelum orang lain mengenali kita.

Tuhanku Ya Allah, mana bisa disini saya bercuap-cuap untuk mengembor-gemborkan kelebihan dan kekurangan orang lain kalau saya sendiri juga tidak mengenal saya. Masa iyah saya mampu kenal sampai sebegitu dalamnya terhadap mereka, namun diri sendiri saya merasa asing. Kadang saya sendiri juga tak paham, siapa saya? Mengapa saya begini? Dan bagaimana caranya saya bisa seperti ini? Disinilah saya akan mengupas tuntas semuanya 🙂

Saya , diri ini, aku, diriku, gue, abdi, dan lain-lain yang menunjukkan kata ganti orang pertama yaitu diri pribadi. Seberapa kenalkah kamu terhadap dirimu sendiri? 25% kah? 50% kah? 75%? atau 100 %? Mudah-mudahan kamu mampu mengenal baik dirimu seperti apa dan bagaimana serta mengapa ketika ada sesuatu yang terjadi pada dirimu, dirimu mampu mengatasinya.

Ada pepatah menyebutkan, “Kenalilah dirimu, maka kamu akan mengenali Tuhan-Mu”. Maka apabila kamu sendiri tidak mengenalnya, maka sampai kapan kamu akan mengenal Tuhan-Mu. Saya rasa kalimat diatas cukup tepat untuk mengenali diri sendiri. Khususnya untuk hal kelebihan dan kekurangan yang kita miliki, serta untuk apa kita ada di dunia ini.

Tuhan mamberi kita nyawa untuk dapat hidup. Memberi segala yang dia ciptakan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk hidup. Kehidupan tidak lepas dari siapa yang mengendalikan. Siapa? Saya? Saya? Siapa? Akan ada masanya kita harus mampu mengenali diri sendiri agar kita tidak terjerumus dalam jalan yang salah menurut aturan.

Apa yang harus kita kenali?
Pertama, siapa diri kita? Kita harus banyak bertanya kepada orang tua kita bagaimana awalnya kita ada. Jangan berpikiran negatif. Kita hanya harus tau bagaiman proses orang tua kita saling mengenal hingga melahirkan kita. Mengapa kita seperti ini? Kita harus mampu menganalisis diri sendiri sebelum orang lain mengenalinya. Hal ini dilakukan agar kita memiliki penilaian untuk masa depan kita. Bagaimana caranya? Tulis dalam selembar kertas kekurangan dan kelebihan yang kita miliki menurut kita sendiri. Sehingga kita akan tau akhirnya akan jadi bagaimana kita kedepannya. Itu untuk hal karir.

Selain dari yang dipaparkan diatas, proses untuk mengenali diri sendiri sebenarnya cukup sulit. Dimana seorang memiliki sifat yang berbeda. Ada sisi lemah dan sisi kuatnya. Maka dari itu, agar kita tidak sering dibodohi dan dikibulin oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, kita harus menutupi kekurangan atau kelemahan kita dengan kelebihan kita. Tunjukkan kepada para penindas bahwa kita itu kuat, kita lebih kuat dari mereka ……..